jatisusetyono

PENTINGNYA INTEGRITAS DAN KETERBUKAAN DALAM KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH

In Uncategorized on Januari 16, 2011 at 9:54 am

PENTINGNYA INTEGRITAS DAN KETERBUKAAN DALAM KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH
Pendahuluan
Bahwa integritas merupakan kepribadian yang mutlak harus dimiliki oleh setiap kepala sekolah. Kami akan mencoba untuk melihat bagaimana pentingnya integritas diakui sebagai nilai universal paling penting dalam kepemimpinan dan cara apa yang dapat kita lakukan untuk membangun kredibilitas kita sebagai kepala sekolah. Diakhir kegiatan, kita akan mencoba untuk belajar bagaimana seharusnya seorang kepala sekolah melaksanakan tugasnya sebagai pemimpin yang transparan.
Dari uraian di atas dapat dirumuskan permasalahan, seberapa pentingnya integitas dan keterbukaan dalam kepemimpinan kepala sekolah ?
Pembahasan
1. Integritas Sebagai Nilai Universal
Dalam bahasa Inggris, kata integrity sering dimaknai dengan honesty atau kejujuran. Integritas merupakan karakteristik yang paling penting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Berbagai teori kepemimpinan terbaru menawarkan sejumlah karakteristik pemimpin ini yang efektif. Kouzes dan Posner (2007) melakukan survei terhadap lebih dari tujuh puluh lima ribu orang yang berasal dari berbagai kalangan. Pertanyaan yang diajukan dalam survei itu adalah “Sifat atau karakteristik pribadi seperti apa yang anda cari dan kagumi dari pemimpin anda?”
Survei yang dilakukan sebanyak empat kali, tahun 1987, 1995, 2002, dan 2007. Kouzes dan Posner (2007) secara ajeg menemukan empat karakteristik yang menduduki peringkat tertinggi dari dua puluh karakteristik pemimpin yang dikagumi. Keempat karakteristik itu meliputi:
• Jujur (honets)
• Berpandangan ke depan (foward looking)
• Menginspirasi (inspiring)
• Kompeten (competent)
Karakteristik Pemimpin Yang Dikagumi (Kouzes dan Posner, 2007)
Karakteristik
Persentase Responden Terhadap Masing-Masing Karakteristik 07 02 95 87
Jujur 89 88 88 83
Berorientasi Ke Depan 71 71 75 62
Kompeten 69 65 68 58
Membangkitkan Semangat 68 66 63 67
Cerdas 48 47 40 43
Adil 39 42 49 40
Berwawasan Luas 36 34 33 34
Suportif 35 40 40 37
Amanah 35 35 41 32
Dapat diandalkan 34 33 32 33
Kooperatif 25 28 28 25
Berani 25 20 29 27
Berpendirian kuat 25 23 17 17
Peduli 22 20 23 26
Imnaginatif 17 23 28 34
Matang 15 21 13 23
Ambisius 16 17 13 21
Loyal 18 14 11 11
Mengendalikan diri 10 8 5 13
Mandiri 4 6 5 10

Hasil survei yang dilakukan Kouzes dan Posner (2007) tersebut secara konsisten membuktikan bahwa kejujuran sebagai unsur yang paling penting dalam hubungan antara pemimpin dan pengikutnya. Persentasenya memang berbeda-beda, namun peringkatnya tidak pernah berubah sejak pertama dilakukan penelitian pada tahun 1980-an hingga tahun 2000-an. Kejujuran tetap berada pada posisi teratas dibandingkan karakteristik penting lainnya. Hasil survei ini menguatkan pandangan bahwa siapapun dan dimanapun mereka berada apabila akan mengikuti pertama-tama mereka ingin memastikan bahwa orang yang diikuti tersebut laayak dipercaya. Hal ini juga berlaku bagi konstituen kepala sekolah. Guru-guru, staf sekolah, para siswa, dan warga sekolah manapun akan bersedia mengikuti kepala sekolah apabila mereka yakin sepenuhnya bahwa sang kepala sekolah adalah orang yang dapat dipercaya. Kalau dilakukan generalisasi hasil survei tersebut dapat diartikan bahwa hamper 90% warga sekolah menginginkan kepala sekolah adalah orang yang jujur.
Hampir semua orang tidak ingin dibohongi atau ditipu. Kita ingin melihat kejujuran pada siapapun. Pendidik, tenaga kependidikan, dan siswa menginginkan kepala sekolahnya sebagai sosok yang tahu mana yang benar dan mana yang salah. Diantara semua kualitas yang dikagumi dari seorang pemimpin, kejujuran merupakan sifat yang paling pribadi. Kejujuran merupakan sifat pribadi yang mampu mengangkat atau menghancurkan reputasi pribadi seseorang. Orang dengan rela mengikuti pemimpin yang jujur karena kemungkinan ia akan dilihat sebagai orang yang jujur pula, begitu juga sebaliknya. Apabila kita mengikuti pemimpin yang dinggap tidak jujur dapat diartikan bahwa kita telah mengorbankan integritas kita sendiri. Lambat laun, kita tidak hanya menghancurkan harga diri sang pemimpin, tetapi sebenarnya juga tidak menghargai diri kita sendiri.
Bagaimana karekteristik subyektif seperti kejujuran kepala sekolah diukur oleh orang-orang yang dipimpinnya? Konsistensi antara kata dan perbuatan merupakan cara bagaimana orang melihat kejujuran. Guru-guru menunggu apa yang akan ditunjukkan oleh kepala sekolah kepada mereka; guru-guru itu mengamati perilaku kepala sekolah. Kejujuran terkait erat dengan nilai-nilai dan akhlak mulia. Guru-guru akan menghargai orang yang memegang teguh prinsip-prinsip yang mendasar. Guru-guru pasti menolak untuk mengikuti kepala sekolah yang kurang percaya terhadap keyakinannya sendiri. Oleh karena itu kepala SD/MI harus meperjelas nilai-nilai, etika, dan standar yang dianutnya dan menyampaikannya kepada semua pihak yang dipimpinnya.
Bagaimana karekteristik subyektif seperti kejujuran kepala sekolah diukur oleh orang-orang yanng dipimpinnya? Konsistensi antara kata dan perbuatan merupakan cara bagaimana orang melihat kejujuran. Guru-guru menunggu apa yang akan ditunjukkan oleh kepala sekolah kepada mereka; guru-guru itu mengamati perilaku kepala sekolah. Kejujuran terkait erat dengan nilai-nilai dan akhlak mulia. Guru-guru akan menghargai orang yang memegang teguh prinsip-prinsip yang mendasar. Guru-guru pasti menolak untuk mengikuti kepala sekolah yang kurang percaya terhadap keyakinannya sendiri. Oleh karena itu kepala sekolah harus meperjelas nilai-nilai, etika, dan standar yang dianutnya dan menyampaikannya kepada semua pihak yang dipimpinnya.
2. Integritas Merupakan Dasar Kredibilitas
Kredibilitas merupakan landasan kepemimpinan. Kouzes dan Posner (2007) melakukan penelitian terhadap apa yang dipahami orang tentang kredibilitas. Beberapa ungkapan berikut digunakan orang ketika ditanya apa yang mereka pahami tentang kredibilitas seorang pemimpin.
• “Pemimpin mempraktikkan apa yang mereka khotbahkan.”
• “Pemimpin melakukan apa yang mereka katakan.”
• “Tindakan pemimpin konsisten dengan perkataannya.”
• “Pemimpin berani bertaruh atas kebenaran perkataan mereka.”
• “Pemimpin menepati apa yang ia janjikan.”
• “Pemimpin melakukan apa yang dikatakan akan ia lakukan.”
Berdasarkan jawaban-jawaban tersebut dapat diartikan bahwa ketika orang akan memutuskan apakah seorang pemimpin dapat dipercaya atau tidak, terlebih dahulu orang tersebut akan mendengar kata-katanya, kemudian memperhatikan tindakannya; terlebih mendengar perkataannya, kemudian memperhatikan bagaimana melaksanakannya; mendengar janji-janjinya, kemudian menunggu apakah janji-janji itu diikuti dengan bukti. Predikat “kredibel” akan diberikan ketika terjadi keselarasan antara kata dan perbuatan. Akan tetapi jika sebaliknya, tidak jarang si pemimpin akan menerima predikat “munafik”. Jika kepala sekolah sering mengungkapkan sejumlah nilai tapi dalam praktiknya melakukan nilai-nilai yang lain, maka guru-guru yang dipimpinnya akan memandangnya sebagai orang yang berpura-pura. Jika kepala sekolah mempraktikkan apa yang dipidatokan, warga sekolah yang dipimpinnya akan lebih bersedia untuk mempertaruhkan karier, jaminan.
Berdasarkan pemahaman-pemahaman tersebut Kouzes dan Posner (2007:38) merumuskan Hukum Pertama Kepemimpinan yang berbunyi:
“If you don’t believe in the messenger, you won’t believe the message.”
“Jika anda tidak mempercayai si pembawa pesan, anda tidak akan memperacayai pesannya”
Berdasarkan hukum ini, Kouzes dan Posner (2007:38) menganjurkan membangun kredibilitas merupakan prasyarat agar seorang pemimpin dipercaya oleh konstituennya. Untuk membangun kredibilitas, kedua ahli itu menganjurkan Hukum Kedua Kepemimpinan (Kouzes dan Posner, 2007:40):
DWYSYWD: Do What You Say You Will Do
LAAKAAL: Laksanakan Apa Yang anda Katakan Akan anda Laksanakan”
LAAKAAL mencakup dua unsur: katakan dan lakukan. Agar kredibel, pemimpin pertama-tama harus memperjelas keyakinannya; mereka harus tahu apa yang mereka yakini. Hal ini masih terkait dengan ’katakan’. Selanjutnya pemimpin harus menunjukkan perkataan tersebut dalam kenyataan. Para pemimpin itu harus bertindak sesuai dengan kepercayaannya dan ’lakukan’.
3. Apakah anda Pemimpin Yang Transparan?
Setiap tahun, konsultan manajemen dan buku-buku bisnis menerbitkan berbagai macam kajian tentang kepemimpinan, dan jika kita membaca buku-buku itu kita akan berfikir bahwa menjadi pemimpin harus memahami gambar-gambar, diagram, atau formula-formula yang rumit. Sebenarnya kepemimpinan jauh lebih sederhana. Hal yang benar adalah bahwa siapapun dapat mengembangkan keterampilan kepemimpinan, akan tetapi dibutuhkan orang khusus untuk menjadi pemimpin yang transparan. Intinya adalah siapapun dapat menjadi pemimpin, akan tetapi diperlukan orang yang unik untuk menjadi seorang pemimpin yang transparan. Kepemimpinan yang baik merupakan keterampilan yang dapat dipelajari, dan kita harus bekerja keras untuk mendapatkannya.
Berbagai teori kepemimpinan menganjurkan bahwa untuk menjadi pemimpin yang hebat dibutuhkan persyaratan-persyaratan yang rumit. Hal ini sering membuat kita bingung. Akan tetapi ada hal mendasar yang ada pada semua teori itu, yakni barometer keberhasilan yang sebenarnya adalah transparansi. Jika pemimpin tidak transparan, tidak masalah jika ia seorang pelaksana yang baik, jika ia rendah hati atau pemberani, bahkan jika ia memiliki kharisma yang besar. Yang menjadi masalah adalah apakah ia dapat bercermin dan berefleksi dengan sebenar-benarnya, dan merasa senang ketika bangun pagi dan bermain-main dengan kejujuran dan integritas. Tidak dapat dipisahkan antara pemimpin yang transparan dengan orang yang transparan, karena orang-orang yang menjalani hidupnya secara terbuka dan jujur akan melakukan hal yang sama ketika menjalankan bisnis. Untuk menjadi pemimpin yang terbaik, anda harus memiliki konsep yang jelas dan jujur tentang nilai-nilai yang anda anut, sumbangan anda terhadap organisasi, dan sejauh mana semua itu memberi makna bagi anda dan sekolah yang anda pimpin.
a. Transparansi Memerlukan Keberanian
Kadang-kadang transparansi menyakitkan. Hal ini karena kegagalan tidak pernah diketahui sebelumnya, dan hal pertama yang masuk dalam benak anda adalah beri dia kesempatan sekali lagi. Keinginan untuk membebaskan seseorang dari dugaan berbuat salah merupakan hal yang manusiawi, akan tetapi jika terkait dengan integritas, anda tidak dapat melakukan hal itu. Jika anda transparan berarti anda telah membuat keputusan yang sulit, yang memerlukan keberanian. Jika anda transparan, anda telah menunjukkan keberanian pada saat pengambilan keputusan berdasarkan apa yang benar, dan hal itu bukan hal yang mudah. Penting untuk diakui, oleh karena transparansi bukan tren, melainkan sebuah proses dan bersifat evolutif.
b. Tugas-Tugas Pemimpin Yang Transparan
Hanya kepala sekolah yang baik yang mengetahui bahwa satu-satunya cara untuk mengembangkan bawahan atas dasar integritas adalah kerja keras untuk menegakkan integritas itu. Kepala sekolah semacam ini memahami bahwa apabila guru-guru dan staf sekolah yang takut terhadap konsekwensi yang diakibatkan oleh kesalahan-kesalahan sederhana yang mereka buat akan berusaha menutupi kesalahan-kesalahan itu. Budaya transparan merupakan budaya dimana para pendidik dan tenaga kependidikan mau mengakui masalah-masalah yang dihadapi dan bersedia mengatakan kesalahan yang dilakukan. Kepala sekolah yang baik akan memahami bahwa budaya keterbukaan mampu mengembangkan mereka yang suka menyembunyikan kesalahan dan baru mengungkapkannya setelah kerusakan yang bersar terjadi.
1) Kepala Sekolah Yang Transparan Harus Menumbuhkan Integritas
Ketika kepala sekolah menjumpai salah satu dari guru tidak pernah menunjukkan integritas dan berbohong tentang sesuatu, pertama-tama kepala sekolah itu harus menguji apakah perilaku yang mendorong kebohongan tersebut atau apakah kebohongan itu sendiri merupakan perilaku yang dapat berdampak negatif terhadap sekolah. Pada akhirnya, diharapkan kepala sekolah dikenang sebagai pemimpin yang berbudi yang bersedia membantu di situasi yang tidak menentu, dari pada orang yang kejam yang hanya diam dan membiarkan pengikutnya tenggelam bergelimang kesalahan.
2) Kepala Sekolah Yang Transparan Harus Bersedia Mendengarkan
Menjadi pendengar yang baik bukan hal yang mudah. Tidak seperti binatang, manusia perlu usaha yang sungguh-sungguh untuk dapat mendengarkan. Oleh karena itu kita harus berusaha keras untuk mengembangkan keterampilan mendengarkan. Kita harus berkeyakinan bahwa mendengarkan merupakan komponen penting untuk memimpin.
Mendengarkan merupakan hal yang sangat penting bagi pemimpin unggul. Jika anda menginginkan kebenaran, anda harus berada pada tempat yang benar dan mendengarkan dengan baik; jika tidak, informasi yang anda terima akan tersaring melalui guru atau wakil-wakil anda sehingga menjadi jernih, bersih, dan … menyimpang. Akibatnya, anda tidak akan mendengar isu-isu yang berakibat negatif terhadap sekolah, anda tidak akan mendengar tentang guru yang membuat orang tua siswa marah, dan tidak pula akan mendengar tentang wakil-wakil anda yang membuat pengaruh negatif terhadap produktivitas guru. Jika kepala sekolah menciptakan saluran-saluran informasi pada setiap level dan membuat kebijakan “buka pintu” yang mendorong guru-guru berkomunikasi dengannya, maka kepala sekolah itu akan dapat mendengar yang baik dan yang buruk, dan mendeteksi badai sebelum menerjang. Jadilah pendengar yang baik. anda pasti akan terkejut betapa besarnya pelajaran yang akan anda peroleh. Jika kepala sekolah merupakan pemimpin yang transparan yang bersedia mendengarkan guru yang dipimpinnya, maka perubahan yang hakiki akan terjadi di sekolah. Pintu selalu terbuka, dan ide-ide baru selalu digali, ditumbuh kembangkan, dan diwujudkan dalam tindakan. Kepala sekolah terbaik adalah yang benar-benar mau mendengarkan pengikutnya. Mendengarkan dapat memberi pengetahuan yang tidak diketahui sebelumnya, namun juga dapat menuai ganjaran ketika hal itu berdampak pada peningkatan moral, loyalitas, dan bagimana para pengikut itu merasa menjadi bagian dari sekolah.

3) Kepala Sekolah Yang Transparan Menjunjung Tinggi Prinsip Utama Transparansi: Mengatakan Semua Kebenaran
Jika kepala sekolah merupakan pemimpin yang transparan ia tidak perlu khawatir terhadap strategi kepemimpinan atau filosofi yang dianut; terdapat kebebasan yang luas dan kredibilitas yang lebih tinggi akan diperoleh apabila orang-orang yang dipimpinnya mengakui bahwa ia mengelola sekolah secara terbuka dan jujur. Jika kepala sekolah terbuka, pihak-pihak yang terkait akan memiliki kepercayaan kepada sekolah dan tujuan jangka panjangnya. Salah satu yang paling sulit untuk dipelajari oleh seseorang yang baru menjabat kepala sekolah adalah bahwa pemimpin yang hebat bukan sekedar orang yang menyenangkan. Pemimpin besar proaktif dan secara konsisten bekerja untuk melakukan hal-hal yang benar. Ketika kepala sekolah proaktif dalam melaksanakan hal-hal yang benar, ia tidak sekedar membuat keputusan untuk menyenangkan orang lain. Kepala sekolah itu terfokus untuk mengatakan kebenaran yang sesungguhnya, dan oleh karena itu, kepala sekolah tersebut dapat belajar dari orang lain dan tidak disesatkan oleh orang lain yang tidak melaksanakan segala sesuatu dengan cara yang benar.
Kepala sekolah harus jujur dengan dirinya sendiri dan orang lain mengenai kemampuannya sebelum dapat memimpin orang lain. Hal ini merupakan proses pertumbuhan. Apabila kepala sekolah jujur atas kemampuannya maka akan mudah baginya untuk menentukan jenis budaya yang ingin dikembangkannya di sekolahnya. Mentransfer filosofi yang dianut oleh kepala sekolah kepada semua warga sekolah akan memperkokoh budaya tersebut, namun hal pertama yang harus dimiliki kepala sekolah landasan yang akan digunakan sebagai dasar merumuskan visi.

4) Kepala Sekolah Yang Transparan Belajar dari Kegagalan (atau Keberhasilan) Orang Lain
Kepala sekolah dapat belajar banyak melalui pengamatan terhadap tindakan-tindakan orang lain saat mereka berjaya—ketika sekolah kuat dan semua guru mendapatkan kesejahteraan baik. Akan tetapi kepala sekolah juga dapat belajar lebih banyak dari tindakan orang-orang ketika “kapal” akan tenggelam, pada saat kondisi sekolah sedang terpuruk, karena saat itulah karakter asli sabagian besar orang di dalamnya mengemuka. Seperti ketika kita menekan pasta gigi dari tempatnya. Apa yang ada di dalam akan keluar ketika kita memberikan tekanan yang cukup. Jika kita memberikan tekanan yang cukup kepada manusia, kita akan melihat semua yang ada di dalam akan keluar, dan kadang-kadang memang tidak baik. Ketika saatnya baik, kita perlu lebih mengerlingkan mata untuk melihat karakter seseorang. Akan tetapi jika kita melihat dengan sungguh-sungguh dan mengamati tindakannya secara konsisten dari waktu ke waktu, kita akan mampu melihat gambaran yang akurat tentang siapa mereka sebenarnya. Hal ini juga merupakan proses belajar, dan penting untuk dilakukan. Belajar dari kepala sekolah lain dapat menghindarkan seorang kepala sekolah untuk membuat kesalahan yang serius. Akan tetapi, pada akhirnya jika kepala sekolah tersebut mengikuti sistem nilai yang dianutnya kemudian merumuskan standar, kesalahan yang dilakukannya seharusnya tidak berpengaruh negatif terhadap dirinya.
Sebagai manusia biasa, setiap kepala sekolah pasti pernah dan akan melakukan kesalahan—termasuk kita semua—akan tetapi kita tidak ingin merusak reputasin dan karir kita. Jika kepala sekolah memperhatikan dengan seksama, kepala sekolah dapat belajar dari kepala sekolah lain di sekitarnya.
5) Kepala Sekolah Yang Transparan Bersedia Menjadi Mentor
Apakah anda pemimpin yang transparan? Harapannya setiap kepala sekolah selalu memikirkan pertanyaan ini karena ia tidak pernah terlepas dari perhatian orang-orang yang dipimpinnya, meskipun kadang kala kepala sekolah itu tidak mengetahuinya. Tidak tertutup kemungkinan bahwa staf administrasi yang bekerja di sekolah anda atau guru-guru akan melakukan sesuatu yang mereka amati dan pelajari dari anda. Kegiatan mentoring yang anda lakukan dapat terjadi secara kebetulan—melalui kontak singkat dengan seseorang, atau hubungan yang berlangsung bertahun-tahun. Kepemimpinan ditunjukkan dengan tanggung jawab sebagai mentor yang baik bagi orang lain. Orang-orang yang saling menghindar, berbohong, dan tidak hormat kepada orang lain dapat dijadikan pelajaran bahwa integritas harus menjadi sesuatu yang selalu menyertai kita, dan kejujuran dapat dengan mudah ditempatkan pada tempat yang salah. Jika kepala sekolah tidak memiliki gaya hidup yang transparan, maka ia tidak akan pernah dipandang sebagai orang yang memiliki integritas yang tinggi, meskipun ia dikenal sebagai orang yang berhasil, orang lain akan berkata hal yang tidak menyenangkan tentang kepala sekolah itu. Pepatah lama yang mengatakan bahwa “persoalannya bukan pada menang atau kalah akan tetapi pada bagaimana anda bermain,” merupakan ungkapan yang benar—terutama pada lingkungan sekolah saat ini.

C. Simpulan
Jujur, berpandangan ke depan, inspiratif, dan kompeten merupakan lima karakteristik pemimpin yang paling diinginkan oleh para pengikutnya. Sebagai pemimpin, Kepala Sekolah harus memiliki lima kepribadian yang menjadi landasan dimilikinya kredibilitas. Warga sekolah yang akan lebih bersedia untuk berkorban apabila kepala sekolahnya kredibel, kepala sekolah mempraktikkan apa yang dipidatokan. Kouzes dan Posner mengemukakan dua hukum kepemimpinan berdasarkan premis ini: “Jika anda tidak mempercayai si pembawa pesan, anda tidak akan memperacayai pesannya” dan “LAAKAAL: Laksanakan Apa Yang anda Katakan Akan anda Laksanakan” Sebagai pemimpin yang transparan, kepala sekolah memiliki lima tugas penting: menumbuhkan integritas, sebagai pendengar yang baik, mengatakan semua kebenaran, belajar dari kegagalan (atau keberhasilan) orang lain, dan sebagai mentor.
Jadi seorang kepala sekolah harus :
1. Memiliki integritas kepribadian yang kuat sebagai pemimpin :
a. Selalu konsisten dalam berfikir, bersikap, berucap, dan berbuat dalam setiap melaksanakan suatu tugas pokok dan fungsi.
b. Memiliki komitmen/loyalitas/ dedikasi/etos kerja yang tinggi dalam setiap melaksanakan suatu tugas pokok dan fungsi.
c. Tegas dalam dalam mengambil sikap dan tindakan sehubungan dengan pelaksanaan suatu tugas pokok dan fungsi.
d. Disiplin dalam melaksanakan suatu tugas pokok dan fungsi
2. Memiliki keinginan yang kuat dalam pengembangan diri sebagai kepala sekolah:
a. Memiliki rasa keingintahuan yang tinggi terhadap kebijakan, teori, praktik baru
sehubungan dengan pelaksanaan suatu tugas pokok dan fungsinya.
b. Mampu secara mandiri mengembangkan diri sebagai upaya pemenuhan rasa
keingintahuannya terhadap kebijakan, teori, praktik baru sehubungan dengan
pelaksanaan suatu tugas pokok dan fungsi.
3. Bersikap terbuka dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi:
a. Kecenderungan untuk selalu menginformasikan secara tranparan dan proporsional
kepada orang lain atas segala rencana, proses pelaksanaan, dan keefektifan,
kelebihan dan kekurangan pelaksanaan suatu tugas pokok dan fungsi
b. Terbuka atas saran dan kritik yang disampikan oleh atasan, teman sejawat,
bawahan, dan pihak lain atas pelaksanaan suatu tugas pokok dan fungsi.
4. Mampu mengendalikan diri dalam menghadapi masalah dalam pekerjaan sebagai
kepala sekolah:
a. Memiliki stabilitas emosi dalam setiap menghadapi masalah sehubungan dengan suatu tugas pokok dan fungs
b. Teliti, cermat, hati-hati, dan tidak tergesa-gesa dalam melaksanakan suatu tugas pokok dan fungsi
c. Tidak mudah putus asa dalam menghadapi segala bentuk kegagalan sehubungan dengan pelaksanaan suatu tugas pokok dan fungsi.
5. Memiliki bakat dan minat jabatan sebagai pemimpin pendidikan:
a. Memiliki minat jabatan untuk menjadi kepala sekolah yang efektif
b. Memiliki jiwa kepemimpinan yang sesuai dengan kebutuhan sekolah

Disajikan oleh : JATI SUSETYONO, S.Pd., M.Pd. (Kepala SMP N 1 Karimunjawa)
Dalam kegiatan Inservice BERMUTU Pokja I Kabupaten Jepara tahun 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: